|
||||
| Sang Imam dan Teknologi Informasi |
Karena kefakirannya, dia mengumpulkan tulang belulang yang dapat dipergunakan untuk menulis apa yang dia dapatkan dari gurunya. Dia juga sering pergi ke kantor pemerintahan untuk mengambil sisa-sisa kertas bekas yang dapat ditulis pada halaman baliknya, atau sisi-sisi yang masih kosong.Siapakah dia, yang begitu sungguh-sungguh dalam mengumpulkan ilmu meski di tengah berbagai keterbatasan? Dialah salah seorang Imam yang agung dalam sejarah peradaban Islam yang gemilang, yang mazhabnya banyak digunakan di tanah air kita, dan menyebar ke seluruh penjuru bumi. Beliau adalah Muhammad bin Idris asy-Syafi'i atau yang lebih dikenal dengan nama Imam Syafi'i. Mazhab beliau tersebar ke Irak, Khurasan, Pakistan, Syam, Yaman, Persia, Hijaz, India, dan daerah Afrika dan Andalusia, penyebarannya bukan hanya berada di negara bagiam timur tapi juga masuk ke beberapa negara yang ada di barat, Eropa dan bahkan Indonesia sendiri. Sejarah mencatat bahwa beliau lahir dalam keadaan yatim, dan tidak berharta. Namun beliau dikaruniai seorang ibu yang visioner, yang melihat bahwa pendidikan berkualitas adalah hak anak yang harus diperjuangkan. Pada usia yang masih dini, ibunya membawanya ke Makkah untuk disekolahkan ke para guru yang terkenal disana. Ibunya berharap dengan belajar di usia yang masih dini beliau bisa menjadi orang yang terdidik, alim dan terhindar dari pengaruh lingkungan yang tidak kondusif. Dengan demikian beliau bisa mengikuti jejak kebaikan para kerabatnya terdahulu. Di Makkah beliau tinggal bersama ibunya di dekat syi'ib Kheif. Disini mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang tidak memadai. Namun berkat semangat dan motivasi yang kuat dari sang ibu, hal itu tidak menjadi alasan bagi Syafi'i kecil untuk berhenti menuntut ilmu. Bahkan menurut pengamatan ulama justru kemiskinan itulah yang menjadi motivasi utamanya. Mempelajari kehidupannya, seolah kita hendak dihadapkan pada fakta bahwa dukungan fasilitas dan finansial adalah urusan nomor sekian dalam produktifitas. Karya-karya beliau yang terus menjadi rujukan umat selama berabad-abad, bahkan hingga masa kini, menjadi bukti tak terbantahkan. Imam Syafi’i hanyalah salah satu contoh. Banyak Imam dan ulama lain yang juga begitu menginspirasi kita dalam berkarya. Tengoklah kehidupan kita sekarang, yang begitu bergelimang kemudahan. Teknologi informasi telah mencapai satu titik yang bahkan puluhan tahun yang lalu belum terbayangkan. Satu kalimat yang kita tuliskan saat ini, dapat terbaca seketika ke seluruh dunia yang sudah saling terhubung. Namun, apakah yang sudah kita hasilkan, yang dapat membawa manfaat bagi kehidupan umat? Tentu saja peluang amal sholih terbuka lewat banyak pintu. Tak semua kita adalah ulama. Tapi berkarya bukanlah hak eksklusif mereka. Mereka adalah pewaris nabi yang kita muliakan. Mereka juga yang mengajarkan kita bahwa setiap kita dapat mengambil peran sesuai keadaan kita masing-masing. Setiap kita dapat melakukan kebaikan, dan menebarkan manfaat buat sekeliling kita. Barangkali, itulah pesan yang bisa saya tangkap dari bercermin pada kehidupan orang-orang besar. |



Karena kefakirannya, dia mengumpulkan tulang belulang yang dapat dipergunakan untuk menulis apa yang dia dapatkan dari gurunya. Dia juga sering pergi ke kantor pemerintahan untuk mengambil sisa-sisa kertas bekas yang dapat ditulis pada halaman baliknya, atau sisi-sisi yang masih kosong.








